Fenomena menurunnya pttogel omzet pusat perbelanjaan atau mal belakangan ini kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Di antara banyak faktor yang memengaruhinya, muncul istilah yang belakangan viral di media sosial: “Rojali” dan “Rohana”. Kedua istilah ini digunakan warganet untuk menggambarkan perilaku konsumen baru yang rajin “cuci mata”, tetapi enggan belanja. Lantas, siapa sebenarnya Rojali dan Rohana? Dan benarkah mereka ikut andil dalam membuat omzet mal menurun?
Siapa Itu Rojali dan Rohana?
“Rojali” adalah singkatan dari Rombongan Jajan Liat-liat, sementara “Rohana” merupakan Rombongan Hanya Nanya. Kedua kelompok ini menggambarkan perilaku pengunjung mal yang datang hanya untuk melihat-lihat atau bertanya harga barang tanpa ada niat untuk membeli. Meski tampaknya sepele, kebiasaan ini dianggap cukup berdampak pada performa penjualan di toko-toko ritel, terutama di masa pemulihan pascapandemi.
Kehadiran Rojali dan Rohana makin terlihat sejak mal-mal kembali ramai dikunjungi. Banyak dari mereka datang untuk sekadar nongkrong, jalan-jalan, atau mencari spot foto estetik untuk media sosial. Sementara itu, aktivitas pembelian barang semakin bergeser ke platform online yang menawarkan diskon dan promo lebih menggiurkan.
baca juga: pengakuan-warga-australia-alami-masalah-saraf-disebut-gegara-vitamin-blackmores
Pengaruh Terhadap Omzet Mal
Menurut beberapa pelaku usaha ritel, meningkatnya jumlah “pengunjung palsu” yang hanya datang tanpa belanja cukup terasa dari sisi omzet. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak gerai mengaku jumlah pengunjung memang meningkat, tetapi angka penjualan justru stagnan atau bahkan menurun. Ini menandakan bahwa traffic ke mal tidak selalu berbanding lurus dengan transaksi nyata.
Contoh kasus, sebuah gerai fashion di mal Jakarta Selatan mengaku rata-rata dikunjungi 200 orang per hari, namun transaksi hanya terjadi sekitar 10–15 kali. Sisanya? Rojali dan Rohana yang hanya bertanya soal harga, mencoba produk, lalu pergi begitu saja.
Gaya Hidup “Window Shopping” dan Perubahan Pola Belanja
Fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Banyak pengunjung mal saat ini menjadikan window shopping sebagai bagian dari gaya hidup. Mereka datang untuk mencari inspirasi, melihat tren terbaru, dan menikmati suasana. Belanja mungkin bukan tujuan utama, melainkan aktivitas sosial dan hiburan.
Namun, dari sudut pandang pelaku usaha, perubahan pola ini menuntut adaptasi yang serius. Mereka harus mulai memadukan strategi offline dan online (omnichannel), memberikan pengalaman belanja yang unik dan tak bisa digantikan oleh e-commerce.
Strategi Mal dan Toko Menghadapi Rojali & Rohana
Beberapa mal besar sudah mulai merespons fenomena ini dengan berbagai cara, seperti:
-
Event dan Aktivitas Tematik
Menyelenggarakan event komunitas, pertunjukan musik, bazar, dan pameran seni agar pengunjung memiliki alasan lebih dari sekadar cuci mata. -
Diskon & Promosi Khusus On The Spot
Menawarkan diskon eksklusif hanya untuk pembelian di tempat, yang tidak tersedia di platform online. -
Kolaborasi dengan Influencer
Menggandeng konten kreator untuk mengubah “liat-liat doang” jadi “belanja beneran”. -
Pelayanan Premium
Meningkatkan pengalaman konsumen lewat pelayanan personal, ruang ganti nyaman, hingga program loyalitas eksklusif.
Apa Kata Psikolog dan Pakar Ekonomi?
Psikolog sosial menyebutkan bahwa Rojali dan Rohana adalah cerminan dari kebutuhan aktualisasi diri. Dengan datang ke mal dan terlihat update secara gaya hidup, mereka merasa memiliki identitas sosial yang “terkoneksi” dengan tren.
Sementara itu, pakar ekonomi menilai fenomena ini sebagai transisi generasi. Generasi Z dan milenial lebih menyukai belanja online, hemat anggaran, dan menunda pembelian hingga benar-benar perlu. Mal perlu menyesuaikan diri agar tetap relevan di tengah perubahan gaya konsumsi ini.
Kesimpulan
Fenomena Rojali dan Rohana memang cukup menggambarkan perubahan perilaku konsumen di era digital ini. Mereka bukan sepenuhnya “pengganggu”, tapi lebih kepada sinyal bahwa pelaku usaha perlu berinovasi. Pengalaman berbelanja kini tidak bisa hanya mengandalkan produk bagus, tetapi juga suasana, interaksi, dan nilai tambah yang tak bisa ditemukan secara online.
Jadi, apakah Anda termasuk tim belanja, tim cuci mata, atau tim hanya nanya? Apa pun itu, satu hal pasti: dunia ritel sedang berubah, dan semua pihak—termasuk Rojali dan Rohana—punya perannya masing-masing.
sumber artikel: www.medfordtruss.com